Jumat, 04 Maret 2011

 Ismail Sukribo (penulis dan pencipta karakter Sukribo Kompas)

Ntah apakah beliau ini hanyalah seorang badut yang hanya ingin menghibur ataukah seorang pengamat yang memiliki selera humor yang tinggi. Ntah apakah beliau ini seorang yang sangat pintar tetapi pura-pura bodoh, ataukah seorang yang bodoh tetapi pura-pura pintar. Yang pasti ketika saya bertemu dengan beliau, beliau selalu memiliki joke yang sangat lucu dan cerdas. Ketika saya membaca komik beliau, isi di dalamnya bahkan saya jamin mengalahkan ilmu yang saya dapat di S2 yang saya tekuni.



Di dalam komik tersebut terdapat berbagai kritik sosial, politik, keamanan, ekonomi semua beliau ceritakan dengan lelucon-lelucon yang segar. Ntah beliau mengerti atau tidak bahwa komik dengan joke yang beliau buat itu bahkan ada yang menyentil kasus-kasus perusahaan international (saya mengerti beberapa kasus karena background saya adalah magister manajemen). Saya sangat tercengang ketika saya mengetahuinya. Ntah saya mungkin yang bodoh atau ketinggalan jaman, akan tetapi cerita beliau di upload november 2008 sedangkan kasus di Indonesia terjadi bulan maret, dan kasus yang terjadi dantri international adalah tahun 2004 dan 2007. Ataukah beliau ingin mengkritik kasus di tahun 1995 (kasus adanya persamaan nama produk. Dalam komik sukribo ada cerita tentang warung tahu kelontong yang diberi nama “Bakrie” agar di ambil alih oleh bakrie mirip dengan beberapa kasus seperti kasus “sony AK” yang ingin direbut “Sony corp.” atau kasus “Nissan” dan masih banyak). Yang jelas beliau adalah seorang yang ramah, dan sederhana

Dan beginilah saya akan memulai cerita dalam artikel saya.

Ketika pagi itu datang, seorang anak kecil mengikuti ibunya untuk pergi ke pasar. Lalu anak kecil tersebut mendapati sebuah sobekan Koran yang ternyata berisi cerita komik panji komeng. Sobekan Koran itu pun langsung memunculkan minatnya terhadap dunia komik. Menginjak sekolah menengah atas beliau pun mendapat cerita panji komeng utuh dan mulai mengenal komik-komik luar seperti asterik.Kecintaannya pada komik lalu berlanjut ketika beliau diajak ke sebuah persewaan komik milik teman ayah beliau. Dari persewaan tersebut beliau banyak membaca komik komik dengan aliran eropa, amerika dan jepang.

Tahun 1992 beliau melanjutkan kuliah di desain interior ISI Jogjakarta. Ketika beliau menghadapi tes kesehatan beliau pun hamper gagal dikarenakan buta warna. Akan tetapi, berkat bantuan dan doa teman-teman dan kebaikan sang dokter beliau pun akhirnya kuliah di tempat tersebut.
Awal kali beliau menekuni dunia komik, beliau memiliki banyak hambatan. Tidak saja dari keluarga tetapi juga dari kesulitan beliau mengembangkan bakatnya. Tetapi karena tekad dan kegigihan beliau akhirnya beliau berhasil menjadi komikus yang disegani. Banyak sekali suka duka yang beliau ceritakan saat berbincang dengan beliau. Prestasi beliau dalam dunia komik pun tidak diragukan lagi, beliau pernah memenangkan lomba komik nasional pada tahun 1994.

Terlihat sekali keramahan dan sosok kerja keras beliau. Hambatan terbesar yang beliau katakana adalah kurangnya peluang di dunia komik. Pada tahun 1994 dunia komik di Indonesia sangatlah kurang peminat, banyak penerbit yang memandang remeh tentang komik. Untuk mengembangkan dita-citanya lalu beliau pindah ke Jakarta untuk mencari peluang yang lebih besar. Akhirnya beliau bergabung dengan tabloid dua mingguan “Tablo” pada tahun 1997. Akan tetapi, beliau akhirnya keluar karena keinginannya untuk kembali membuat komik.

Tahun 1998, beliau kembali melanjutkan kuliah dan bekerja di Jogjakarta dalam bidang bisnis konstruksi. Pada tahun ini dunia komik pun mulai mendapat perhatian karena bantuan LSM. LSM mulai mengkritik komik di Indonesia dan memberi saran bahwa komik di Indonesia perlu menambah unsur edukasi di dalam ceritanya. Lalu, banyak LSM yang menggunakan komik sebagai sarana penyampaian pesan sosial mereka. LSM pertama yang memiliki perhatian komik adalah LSM INSIS. Akhirnya, komik di Indonesia pun berkembang pesat.

Pada tahun 2003, Ismail Sukribo bergabung dengan kompas dan mulai membuat komik rutin Sukribo bersama kong kotilang dan panji koming. Dengan bergaya eropa dan di isi dengan pesan-pesan moral, sosial, politik dan edukasi, sukribo menjadi salah satu tokoh komik yang memiliki karakter dan dipandang oleh masyarakat.

Ketika kami bertemu beliau, kami mendapat banyak sekali masukan. Beliau panjang lebar bercerita mengenai hal terpenting dalam pembuatan sebuah komik. Menurut beliau, hal yang utama dilakukan dalam pembuatan sebuah komik adalah riset. Tanpa riset komik hanyalah sebuah lelucon bodoh. Riset perlu dilakukan untuk mengetahui latar belakang budaya dan hal-hal mendetail dalam sebuah komik. Misalnya dalam komik yang bercerita mengenai kehidupan masyarakat jogja, maka komikus harus mengetahui pakaian, makanan khas, rumah, lingkungan, tingkah laku dan kebiasaan, harus di perhitungkan secara detail.

Hal terpenting selanjutnya adalah sebuah komik bukan sekedar gambar tetapi juga harus memiliki cerita. Karena unsur terpenting dari sebuah komik adalah cerita, bukan gambar. Gambar yang buruk tetapi memiliki cerita yang menarik menurut beliau telah dapat dikatakan sebagai komik yang baik. Beliau juga bercerita gambar dalam komik sama halnya memperhatikan juga masalah semiotika yaitu ilmu filsafat yang menggunakan simbol-simbol untuk menambah penekanan pesan. Misalnya apabila kita ingin menunjukkan pesan yang besar dalam sebuah foto maka angle foto akan lebih baik bila diambil dari angle bawah, atau penekanan efek dramatisasi.

Beliau bercerita pula mengenai kelemahan dari komikus Jogjakarta yang adalah tidak sanggup menepati deadline. Masyarakat Jogjakarta cenderung terkenal santai dan kurang menepati deadline ketika harus diberi keterbatasan waktu. Hal itu menyebabkan komikus Jogjakarta kalah bersaing dengan komikus dari daerah lain. Selain deadline komikus harus memiliki sifat jujur. Jujur disini dalam artian harus selalu memegang teguh hal yang sudah dalam perjanjian. Jadi ketika komikus menyanggupi suatu kontrak maka komikus harus siap mengerjakannya.

Kelemahan komik Indonesia juga ada pada kurangnya riset. Sehingga banyak sekali kejanggalan-kejanggalan dalam cerita dan gambar komiknya. Komik di Indonesia juga akan memiliki cerita yang tidak teratur ketika harus membuat komik dengan ceerita yang panjang. Komikus di Indonesia kurang memprediksikan bagaimana akhir atau alur cerita di akhir komik, sehingga pada halaman-halaman komik yang memiliki halaman lebih dari 125 halaman maka alur cerita atau makna cerita akan cenderung menurun.

Bercengkrama dengan beliau sangatlah menyenangkan. Beliau memiliki humor-humor yang hangat dan sangat ramah. tidak hanya beliau tetapi keluarga juga sangat ramah. membuat kami betah dan tidak merasa bahwa sudah berjam jam duduk bersama salah satu maestro komikus Indonesia.

Pesan terakhir dari beliau adalah menjadi komikus itu yang utama ada pada kepercayaan diri membuat dan berani bercerita. Bukan masalah teknis tapi cerita.