Serikat Kebudayaan Masyarakat Indoesia merupakan pengembangan dari keluarga seni pinggiran anti kapitalis serikat pengamen Indonesia. Awalnya mereka hanya terdiri dari para pengamen dan musisi jalanan akan tetapi saat ini mereka lingkupnya lebih luas, bukan hanya para pengamen tetapi juga para pedagang kaki lima, tukang becak, pengemis, bahkan ada pula yang masih berstatus mahasiswa. Mereka tidak hanya ada di Jogjakarta tetapi ada di seluruh Indonesia dan memiliki kantor pusat di Jakarta.
Mereka adalah organisasi yang berasal dari kaum miskin kota. Organisasi ini dibentuk untuk menampung dan menyalurkan suara-suara kaum miskin kota. Tidak hanya masalah sosial, tapi juga politik, keamanan, kesejahteraan, keadilan dll. Mereka ingin memberitahukan bagaimana kondisi realitas masyarakat Indonesia yang masih didera kemiskinan. Sadar bahwa mereka membutuhkan wadah agar menjadi lebih solid dan kuat maka mereka membentuk organisasi ini. Mereka tidak lagi tergap pada aliran musik atau profesi mereka. Dalam organisasi ini mereka telah menjadi satu keluarga yang bersama-sama memberontak pada system yang ada. Mereka melawan system bukan melawan produk, karena mereka beranggapan bahwa yang salah adalah system yang ada bukan produk yang ada.
Apa makna kebebasan bagi mereka? Kebebasan menurut mereka adalah bagaimana mereka dapat menyuarakan aspirasi dan pikiran-pikiran mereka dapat didengar tanpa ada tekanan dan kepentingan dari siapapun. Karena dalam kenyataannya mereka berpendapat bahwa apa yang terjadi di lapangan ketika seseorang menyampaikan pikiran mereka, hal itu hanyalah karena ada beberapa pihak yang melakukan tekanan dan kepentingan. Sebagai contoh mereka sering mendapatkan tawaran berkarya tetapi mereka diharuskan untuk mendukung kelompok tertentu atau ketika meerka berorasi, mereka sering ditangkap, diculik, diintimidasi bahkan dianiyaya karena melawan birokrasi yang ada yang menurut mereka tidak adil.
Keadilan merupakan hal yang mereka perjuangkan. Mereka merasa bahwa saat ini birokrasi yang ada lebih mementingkan para pemilik modal dan kekuasaan. Mereka merasa disingkirkan, dan banyak hak hak yang seharusnya menjadi milik masyarakat bawah seperti mereka hilang karena oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga hanya orang-orang tersebut yang merasakan kesejahteraan dan kemakmuran dan hak mereka tidak sampai kepada mereka.
Mereka pun akan berhenti menjadi seorang pengamen ketika mereka mendapatkan pekerjaan yang layak dan semestinya. Mereka tidak berniat menjadi pengamen, pengemis, pedagang kaki lima apabila mereka tidak tertekan dengan kondisi mereka yaitu kemiskinan.
Kegiatan apa yang mereka lakukan dalam organisasi ini? Dalam organisasi ini mereka memiliki banyak advokasi. Ada advokasi kesehatan, politik, sni dan budaya, dll. Mereka diajarkan untuk berdialog, melakukan orasi, bagaimana mengemukakan pendapat, bagaimana etika mengamen dll. Mereka juga saling membantu apabila terdapat rekan mereka yang terkena musibah. Bahkan mereka berani untuk menuntut janji-janji dari LSM dan organisasi lain, misalnya LBH ataupun LSM LSM kesehatan.
Selain itu mereka juga diajarkan bagaimana mereka bisa menjelaskan kepada petugas Satpol PP atau pun petugas kepolisian apabila mereka terciduk razia. Mereka juga menancapkan AD ART mereka yang mereka jadikan idealis agar masing-masing anggota dapat mengerti apa yang mereka perjuangkan. Tidak hanya lelucon atau buah dari emosi mereka.
Musik Sebagai Media untuk Menyampaikan Pikiran. Menurut mereka, ketika masyarakat Indonesia banyak di pengaruhi oleh musik-musik melayu, masyarakat Indonesia hanya dijejali oleh kebohongan mimpi-mimpi belaka, tidak keadaan realita yang ada. Musik bagi mereka seharusnya memiliki lirik-lirik yang bertemakan realita, baik itu mengenai sosial, politik, keamanan dll. Music bagi mereka adalah media untuk berkarya dan menyampaikan pendapat dan pikiran. Mereka seperti berorasi melalui musik. Dan apapun itu genre aliran musik itu sendiri.
Mereka juga mengadakan pertunjukan-pertunjukan kecil dengan memasang panggung di sudut jalan malioboro untuk memberikan kesempatan bagi para musisi jalanan untuk tampil dan menampilkan karya mereka kepada masyarakat. Kegiatan ini mereka anggap penting karena mereka melihat yang mendapatkan kesempatan dalam menampilkan karya adalah orang-orang yang memiliki materi, kedekatan dengan label dan produser musik.
Mereka bahkan berhasil menciptakan dua album hasil karya mereka yang berisi lagu-lagu dengan lyric tentang kritik terhadap system birokraso yang ada. Tidak hanya itu mereka juga menyelipkan cerita bagaimana kehidupan kaum miskin kota di jalanan yang sebenarnya. Mereka menggabungkan lyric-lyric realita dengan nada yang unik dan enak didengar sehingga para pendengar pun merasa senang untuk mendengarkannya.
Mereka bernyanyi dengan nada yang indah, dan lyric yang menyentil oknum-oknum yang mereka anggap bertanggung jawab atas kondisi kemiskinan yang ada di masyarakat. Sehingga ketika mereka memainkan lagunya, pendengar sepertinya mendengarkan dengan seksama tentang lyric apa yang diucapkan.
Bagaimana Mereka Mendanai Kegiatan-Kegiatan Mereka? Dari penjualan album hasil karya mereka. Maka sebagian di sisihkan untuk kepentingan organisasi. Mereka menolak untuk dibiayai oleh LSM ataupun partai politik dan organisasi-organisasi manapun. Karena mereka beranggapan bahwa LSM, partai dan organisasi politik tersebut akan mengekang mereka dari kebebasan mereka untuk berpendapat dan harus menuruti kepentingan yang ada dalam LSM, partai dan organisasi-organisasi tersebut.
23.15
Rizqi Syfruddin